Sejarah Credit Union Khatulistiwa Bakti

Sejarah Credit Union Khatulistiwa Bakti

Minggu, 12 Mei 1985, selesai Misa Kudus di Gedung Serbaguna Paroki Keluarga Kudus Kota Baru Pontianak, diadakan pertemuan sangat penting yang kini menjadi momentum bersejarah bagi Credit Union Khatulistiwa Bakti khususnya dan dunia per-creditunion-an di Indonesia pada umumnya.

Pertemuan setelah misa mingguan di paroki tersebut dihadiri para mantan peserta kursus dasar Credit Union (CU). Kursus itu dilaksanakan Delsos bekerja sama dengan Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I). Materi kursus tersebut setara dengan materi pendidikan dasar CU saat ini. Kursus yang difasilitasi oleh H. Woerwanto dan Th. Trisna Ansali dari BK3I berlangsung selama enam hari, dengan metode pembelajaran berupa simulasi dan praktik, seperti analisis kredit melalui wawancara dan permainan. Tujuannya agar peserta benar-benar memahami materi yang disampaikan.

Kursus tersebut diikuti oleh 50 orang yang berasal dari berbagai latar belakang, seperti guru, dosen, mahasiswa, serta organisasi atau lembaga swadaya masyarakat yang bernafaskan Katolik, antara lain Wanita Katolik (WKRI), Pemuda Katolik, PMKRI, dan berbagai yayasan Katolik. Namun, dalam pertemuan tanggal 12 Mei tersebut hanya 25 orang yang hadir. Pertemuan ini memang telah diagendakan sebagai penutup kursus dengan tujuan membahas pembentukan credit union. Para peserta diberi waktu selama satu minggu untuk mempertimbangkan keputusan tersebut.

Setelah mendengarkan berbagai pendapat, pertemuan tersebut menyepakati untuk mendirikan sebuah credit union yang diberi nama Khatulistiwa Bakti. Nama “Khatulistiwa” diambil dari letak geografis Kota Pontianak yang berada di garis khatulistiwa, sedangkan “Bakti” bermakna kontribusi Gereja bagi masyarakat Kalimantan Barat. Dari 25 peserta, sebanyak 23 orang menyetujui pendirian ini dan menjadi anggota perdana sekaligus pendiri CUKB, sesuai dengan ketentuan minimal pendirian koperasi saat itu.

Secara formal, nama para pendiri tidak tercantum dalam Akta Pendirian karena pengurusan legalitas baru dilakukan lima tahun kemudian. Dalam akta Nomor: 19/KP/KWK-14/1990 tanggal 30 Juni 1990, hanya tercatat lima orang sebagai pendiri formal, yaitu Maran Marcellinus, Agustinus Syaikun Riyadi, Kristianus, Mega Hartati Andika, dan Marcelinus Djawa Lodo.

Kelima orang tersebut diberi kuasa oleh Rapat Pembentukan Koperasi Kredit Khatulistiwa Bakti pada tanggal 21 Januari 1990 di Pontianak. Meskipun demikian, secara internal disepakati bahwa pendiri sebenarnya adalah 23 orang, dan tanggal berdirinya CUKB tetap mengacu pada 12 Mei 1985.


Kepengurusan Awal (1985–1986)

Badan Pengurus
  • Ketua: Drs. A.R. Mecer
  • Wakil Ketua: Drs. Paulus Florus
  • Sekretaris: Anton Kaluge
  • Bendahara: Frans Laten
  • Anggota: Sekundus Jeddi
Panitia Kredit
  • Ketua: Drs. Stevanus Buan
  • Wakil Ketua: Yulius Lanan
  • Sekretaris: Ny. Hetty Viator
Badan Pemeriksa
  • Ketua: Pius Alfred Bin Simin
  • Wakil Ketua: Ir. Ida Wenefrida
  • Sekretaris: Ny. Maria Caloh

Visi dan Misi

Visi:
Memperkembangkan kesejahteraan anggota pada khususnya dan kemajuan daerah kerja pada umumnya dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Misi:

  • Mewajibkan dan menggiatkan anggota untuk menabung secara teratur
  • Memberikan pinjaman untuk usaha produktif dan kesejahteraan dengan bunga rendah
  • Menyediakan kredit perumahan dan kendaraan
  • Menjalankan usaha lain yang tidak bertentangan dengan prinsip koperasi

Latar Belakang dan Perkembangan

CUKB didirikan atas dasar keprihatinan terhadap kondisi ekonomi masyarakat kecil serta sebagai alternatif pengembangan ekonomi berbasis keswadayaan. Pada awalnya, CUKB juga berfungsi sebagai credit union percontohan (laboratorium) bagi program Delsos di Keuskupan Agung Pontianak.

Untuk menjamin keamanan dana anggota, CUKB kemudian memperoleh badan hukum dengan Nomor: 1322/BH/X yang disahkan pada tanggal 30 Juni 1990. Dalam akta tersebut, digunakan istilah “Koperasi Kredit” karena istilah “credit union” belum diakui dalam undang-undang koperasi.

Seiring perkembangan, CUKB menjadi lembaga terbuka untuk semua kalangan tanpa membedakan suku, agama, dan latar belakang. Pada tahun 1995, CUKB menjadi lembaga independen, dan pada tahun 2010 wilayah operasionalnya resmi mencakup seluruh Provinsi Kalimantan Barat.


Tantangan dan Kebangkitan

Pada tahun 1994, CUKB mengalami musibah kebakaran yang menghanguskan seluruh kantor dan data penting. Namun, semangat kebersamaan anggota menjadi kekuatan utama untuk bangkit kembali.

Dengan dukungan anggota, pengurus, dan staf, CUKB berhasil membangun kembali sistem operasionalnya. Bahkan, anggota turut membantu dengan menyumbangkan peralatan dan aktif kembali dalam kegiatan koperasi.

Seiring waktu, kinerja CUKB semakin membaik, ditandai dengan meningkatnya kepercayaan anggota serta pertumbuhan simpanan dan deviden.


Penutup

Perjalanan Credit Union Khatulistiwa Bakti merupakan bukti nyata bahwa semangat kebersamaan, solidaritas, dan kerja keras mampu membangun lembaga yang kuat dan berkelanjutan. Dari awal yang sederhana hingga berkembang menjadi koperasi modern, CUKB terus berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya.